Mempertanyakan Existensi Guru Di Gayo

Di dataran tinggi Gayo, banyak para guru yang tidak bermutu dan tidak pernah mau belajar. Cenderung fasif, melahirkan generasi robot. Padahal kunci perkembangan daerah seperti Gayo ada di tangan pendidikan. Mari kita bertanya dan melihatnya lebih jauh.

Ketika, seorang pengajar merasa cukup dengan ilmu dan wawasan yang ia miliki. Maka, sesungguhnya ia telah memposisikan dirnya sebagai orang paling tahu dan paling bisa dibanding dengan orang lain. Tipe pengajar seperti ini padanya umunya sulit menerima pembaharuan-pembaharuan, takut disaingi, takut berkompentensi dan apraori terhadap orang lain.

Tipe pengajar seperti ini, biasanya akan cenderung melakukan penindasan. Padahal ilmu pengetahuan adalah dimensi dinamis yang selalu berkembang dan tidak statis. Tidak akan pernah ada kata final dalam kamus ilmu pengetahuan. Ia selalu berubah sesuai adanya penemuan pengetahuan yang baru. Ia sendiri didalamnya selalu ada tesis, antitetis dan sintetis. Selama otak manusia masih ada dan selama manusia masih mampu berpikir selama itu juga ilmu pengetahuan akan menerima konsep-konsep baru.

Guru adalah pahlawan tanpa jasa, demikian jargon yang biasa kita dengar. Terlepas dari masih kurangnya perhargaan yang diberikan kepada Frofesi mulia ini. Demi pentingnya sebuah pendidikan, kita seharusnya bertanya, apakah seorang guru menghargai Frofesinya?. Sudahkah ada usaha untuk menambah kompetensi pada guru-guru itu sendiri?. Kalau mau jujur, pengetahuan guru saat ini masih jauh dari yang seharusnya. Ini diperparah lagi dengan banyaknya para guru yang punya titel akademik begitu panjang, tapi ternyata ilmunya nol besar. Kacaunya, bahkan ada guru yang tidak mengetahui apa sebenarnya tugas mereka.

Di Gayo, yang sebagian besar wilayahnya masih marginal. Begitu sangat dibutuhkan para peran guru dalam memajukan daerah untuk bangkit dengan wilayah. Lalu dalih fasilitas yang tidak memadai, gaji yang tidak seberapa dan buruknya sistem admistrasi selalu menjadi alibi para guru yang sebenarnya tidak pernah tahu apa sebenarnya tugas mereka.
Kebanyakan para guru tipe seperti ini hanya mengejar target menjadi PNS. Ia tidak perduli apakah ia mampu atau tidak menjadi seorang guru. Orang seperti cenderung hedonis, prinsip yang tidak kuat dan tidak berkarakter. Ia lebih beorentasi pada penaikan level status di masyarakat. Menjadi guru bukan lagi sebuah panggilan jiwa. Tapi, sebuah usaha untuk mendapatkan selembar uang, karena putus asa dan kalah pada sebuah sistem.

Mencuplik, argument Poulo Freire dalam Pedagogy Off Freedom: Etnich, Democracy and Civic Courage ( 1998) seseorang yang berposisi sebagai pengajar pada prinsipnya adalah seorang yang senantiasa dituntut untuk belajar. Pada bab II ia menegaskan: There is no teaching without learning, artinya tidak mengajar tampa belajar. Ini artinya, siapapun tidak boleh berhenti belajar meski status sebagai seorang pengajar sekalipun.

Ironisnya, ada kecenderungan para guru di negeri dingin ini sangat jarang melakukan proses pembelajaran. Kalaupun ada yang menempuh pendidikan, hanya untuk menaikan golongan pangkat dan berharap ada kenaikan gaji. Masalah ada penembahan ilmu atau tidak nomor seratus dua puluh. Parahnya, para guru ini menempuh pendidikan di perguruan atau Universitas yang juga para pengajarnya tidak kompenten.

Masalahnya bukan itu saja, birokrasi di dinas terkait juga sangat carut marut. Pengangkatan guru cenderung lebih bersifat kekerabatan dan tidak melihat kompetensi layak atau tidaknya ia menjadi seorang guru yang digaji dari uang rakyat. Ironisnya, masih ada ditemukan praktek curang, oknum pejabat yang disuap untuk menggolkan seorang guru yang tidak punya kemampuan secara akademik menjadi PNS.

Disini terjadi hukum sebab akibat. Para guru yang menjadi PNS seperti ini, kemudian melakukan praktek pemerasan kepada murid untuk mengembalikan modal yang ia keluarkan. Maka mutu pendidikan sangat memprihatinkan.

Pemandangan para guru yang nongkrong pada saat jam pelajaran di sekolah sekolah di Gayo adalah hal lumrah kita temui. Para guru ini merumpi dan para murid membuat keributan di kelas. Para guru hanya berpikir bagaimana caranya membuang kejenuhan untuk menghabiskan waktu dan menunggu tanggal gajian.

Bahkan, ada sebagian guru yang mengajak muridnya untuk membantu dirinya membersihkan kebun-kebun kopi mereka dengan imbalan uang. Yang lebih parah, ini terjadi sekolah-sekolah pedalaman di Gayo, banyak para guru yang menyuruh para murid untuk membawa buah-buahan ke sekolah, bagi murid yang membawanya, imbalannya nilai yang bagus. Kebiasaan ini cenderung membuat para murid malas belajar. Toh, dengan sebiji buah, nilai akan bagus, jadi ngapain belajar pikir murid.

Kenyataannya, seorang guru yang hanya puas dengan ilmu yang ia miliki, sebenarnya tidak ubahnya seperti seorang robot. Pengetahuannya hanya terbatas dari apa yang telah ia serap atau diprogram dalam otaknya. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk menggali lebih banyak lagi pengetahuannya. Ini membuat para anak didiknya menjadi pasif dan anovatif.



Persoalannya para murid yang dibodohinya itu bukan urusannya. Bila ada murid yang jenius dan mengajukan pertanyaan kritis, para guru seperti ini akan memberikan tekanan kalau pertanyaan tersebut tidak termasuk dalam materi yang sedang diajarkan. Kalau masih juga ada para murid yang membandel dan tetap bertanya, maka para guru ini akan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Murid itu akan dicap sebagai murid yang bandel, susah dididik, murid pembuat masalah, aneh dan sok pinter. Kemudian sang guru kemudian akan melakuka praktek culas, singkirkan murid tersebut dari teman-temannya dan diberikan nilai yang paling buruk.

Guru robot seperti ini tentu akan melahirkan murid robot juga. Generasi yang hanya menguasai teks dan teori dan kering inovasi dan tidak akan mampu mengimplemtasikan dalam tatanan praktis. Ini diperparah, teks tersebut juga sudah usang dan sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman.

Gambaran diatas adalah fakta yang terjadi di Gayo saat ini. Umumnya para guru didaratan tinggi adalah robot-robot pendidikan. Banyak indikator yang bisa dijadikan acuan. Salah satunya kurangnya para guru yang melahirkan karya-karya inovatif untuk pengembangan akademik atau ilmu pengetahuan.

Hal-hal yang perlu dilakukan sebenarnya adalah: harus dilakukan upaya mempopulerkan budaya membaca, menulis dan meneliti di kalangan para guru. Model-model penelitian tindakan kelas ( Class Action Reseach) seharusnya adalah hal familiar dikalangan para guru. Cara seperti ini, sebenarnya tidak hanya akan berguna dalam meningkatkan kualitas wawasan para guru dan bisa menjadi langkah strategis untuk mendapatkan obat bagi permasalahan pendidikan kita di Gayo.

Arsadi Laksamana
Penulis Adalah Direktur LSM PERAN

[category lingkungan]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s